Jumat, 18 September 2015

on

Penjualan Mobil CBU Tak Terpengaruh Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar

Mobil CBU atau Completely Build-Up menjadi salah satu jenis mobil yang tetap eksis di Indonesia. Mobil ini adalah jenis kendaraan yang diimpor dari produsennya dengan keadaan utuh. Pasalnya, ada juga jenis kendaraan baik mobil ataupun motor yang diimpor dalam kondisi komponen yang masih terpisah atau belum lengkap. Ada beberapa perusahaan mobil yang mengimpor produknya ke Indonesia dalam keadaan jadi atau utuh. Namun belakangan ini impor kendaraan CBU terkendala oleh nilai tukar rupiah terhadap dollar yang melemah. Hal ini membuat banyak dealer mobil di seluruh Indonesia harus memutar strategi supaya penjualan kendaraan CBU tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi sekarang ini.



Adapun beberapa contoh mobil CBU yang masuk ke Indonesia adalah mobil Ferrari, Lamborghini, Porsche, dan sebagainya. Namun untung saja perubahan nilai tukar rupiah tidak terlalu berdampak dalam impor mobil rakitan ini. Meskipun para pelaku usaha kendaraan CBU sempat terpuruk, namun keputusan bisnis yang tepat bisa membawa pelaku usaha impor kendaraan CBU terselamatkan. Baru-baru ini para pemilik dealer di Indonesia tengah menunggu situasi nilai rupiah membaik untuk kemudian memesan mobil dari perusahaan luar negeri. Sebab jika dipaksakan, maka hal itu bisa berdampak bagi kelangsungan bisnis. Kondisi ini membuat para dealer harus pandai membandingkan harga dengan kemampuan pasar dalam negeri.


Sebagai informasi tambahan, bulan Agustus lalu harga mobil KIA Rio dan KIA Picanto sudah naik sekitar 2 jutaan rupiah per unitnya. Namun, hal itu ternyata belum membuat para pemilik dealer menaikkan harga jual mobil. Mereka masih pasif dan menunggu kondisi pasar serta langkah dari para pesaing. Para pengusaha harus bersabar dan tidak tergesa-gesa mengikuti kenaikan nilai tukar dollar ini. Jika tidak, dapat dipastikan bahwa penjualan mobil CBU akan menurun drastis. Akhir bulan Juli hingga pertengahan Agustus kendaraan roda empat CBU di Indonesia masih dijual dengan harga lama. Pasalnya, saat itu nilai tukar dollar masih terbilang cukup stabil. Namun menjelang akhir bulan Agustus, nilai tukar dollar semakin menguat.

Tantangan yang dihadapi oleh para importir mobil CBU pun pasti semakin pelik. Harus diterapkan sebuah strategi yang tepat agar penjualan tetap stabil. Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa dealer pun mengajukan tambahan subsidi program dari ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek). Dealer harus bisa mengontrol budget dan tetap memantau minat konsumen dengan berbagai penawaran menarik, misalnya seperti pemberian diskon. Namun para pemilik dealer di Indonesia masih tetap optimis kondisi perekonomian Indonesia akan segera stabil. Dengan demikian, pemesanan kendaraan CBU dari luar negeri pun bisa dilakukan dan harga bisa lebih terkontrol karena di Indonesia ada hanya ada beberapa penjualan produk CBU yang menonjol.

Seperti Toyota misalnya, perusahaan otomotif yang satu ini tetap optimis mengenai kelancaran penjualan meskipun kondisi perekonomian sedang tidak stabil.  Apalagi mengingat Toyota Grand New Avanza juga masih hits dan banyak dicari oleh masyarakat. Avanza terbaru ini diprediksikan bakal lebih sukses daripada generasi pendahulunya. Kondisi para importir kendaraan roda empat CBU agak sedikit berbeda dengan ekspor kendaraan berbentuk utuh. Terhitung sejak bulan Januari 2015 lalu hingga bulan ketujuh, penjualan mobil CBU tercatat sudah mencapai angka lebih dari 120 ribu unit. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 12,44 persen dibandingkan tahun 2014 lalu. Perekonomiandiharapkan segera stabil supaya impor kendaraan tidak terhambat.